STRATEGIC COST MANAGEMENT : THREE KEY THEMES

STRATEGIC COST MANAGEMENT : THREE KEY THEMES

Strategic Cost Management meliputi 3 hal, yaitu :
1. The Value Chain Concept
2. The Strategic Positioning Concept
3. The Cost Driver Concept

1. THE VALUE CHAIN CONCEPT
Pengendalian harga secara efektif memerlukan fokus eksternal yang luas bagi perusahaan. Porter (1985) menyebutnya sebagai value chain. Value Chain merupakan serangkaian aktivitas yang menambah nilai perusahaan sejak dari proses pembelian bahan baku hingga menjadi bahan jadi yang dikonsumsi oleh konsumen. Value Chain perspective membahas keseluruhan aktivitas dari awal hingga akhir sehingga hubungan dan kerjasama antara pihak perusahaan, pemasok dan konsumen terjalin.
Sebaliknya manajemen akuntansi seringkali menekankan fokusnya secara internal dalam perusahaan atau value added perspective, yang dimulai dari pembayaran kepada pemasok (pembelian) hingga berakhir pada penjualan kepada konsumen. Value added perspective mempunyai 2 kelemahan yaitu saat dimulainya terlambat dan berhentinya terlalu cepat. Cost analysis pada saat pembelian menghilangkan kesempatan untuk memilih dan menjalin kerjasama yang lebih baik dengan pemasok. Berakhirnya cost analysis pada saat penjualan juga menghilangkan kesempatan untuk menjalin hubungan dengan konsumen. Hubungan yang erat antara perusahaan dengan pemasok dan konsumen sama-sama pentingnya bagi perusahaan, utamanya dalam jangka panjang.
Hubungan yang terjalin dengan konsumen ini merupakan kunci utama yang melatarbelakangi konsep life cycle costing. Life cycle costing secara eksplisit berkaitan dengan apa yang konsumen korbankan dengan membeli produk dengan total cost yang konsumen peroleh terhadap pemakaian (life cycle) produk itu. Forbis dan Mehta (1981) menjelaskan bahwa life cycle costing perspective mampu menciptakan value chain yang dapat meningkatkan keuntungan. Perhatian yang diberikan kepada konsumen pasca pembelian secara efektif dapat meningkatkan market segmentation dan product positioning.

2. THE STRATEGIC POSITIONING CONCEPT
Porter (1980) mengatakan bahwa suatu perusahaan dapat bersaing dengan menggunakan strategi yang dipilihnya dengan cara cost leadership (memberikan harga yang lebih murah dari pesaing) dan product differentation (menawarkan produk yang berkualitas tinggi). Dalam kenyataannya, hal strategi ini tidaklah mudah diimplementasikan karena 2 strategi ini mencakup pemikiran manajerial yang berbeda dan cost analysis perspective yang berbeda pula. Sebagai contoh untuk perusahaan dengan produk yang mapan (mature), cost leadership merupakan salah satu strategi yang penting. Sedangkan bagi perusahaan dengan produk yang sedang berkembang, product differentiation lebih penting daripada cost leadership.

3. THE COST DRIVER CONCEPT
Dalam Strategic Cost Management, cost disebabkan oleh berbagai faktor. Dengan memahami cost behavior berarti juga memahami serangkaian cost driver (pemicu biaya) dari berbagai situasi.Menurut Riley (1987), ada 2 macam cost driver yaitu :
1) STRATEGIC COST DRIVER menekankan struktur ekonomi sebagai pemicu biaya terhadap kelompok produk tertentu yang meliputi :
• Scale : Seberapa besar investasi yang dipakai dalam proses produksi, R &D, dan pemasaran.
• Scope : Tingkat integrasi secara vertikal. Tingkat integrasi secara horizontal lebih terkait dengan scale.
• Experience : Berapa kali perusahaan mempunyai pengalaman yang sama seperti sebelumnya.
• Technology : Teknologi proses apa yang digunakan perusahaan dalam kaitannya dengan value chain perusahaan.
• Complexity : Seberapa luas/ banyak rangkaian produk dan layanan yang ditawarkan kepada konsumen.

2) EXECUTIONAL COST DRIVER menentukan cost position perusahaan yang mampu menjalankan kegiatan operasionalnya dengan sukses dan meliputi :
• Work force involvement (participation) – komitmen sumber daya terhadap continuous improvement.
• Total quality management ( kemampuan mencapai kualitas produk dan proses yang baik)
• Capacity utilization (pilihan skala yang memungkinkan dalam konstruksi perusahaan)
• Plant layout effieciency (seberapa efisien layout perusahaan terhadap norma-norma yang berlaku)
• Product configuration (seberapa efektif desain dan formulasinya)
• Exploiting linkages with suppliers and/ or customers per the frim’s value chain.

Tanpa mempertimbangkan cost driver yang ada, beberapa hal yang harus diperhatikan adalah :
– Untuk analisa strategi, volume tidak selalu berguna dalam menjelaskan cost       behavior.
– Secara strategi, cost position lebih bermanfaat dalam menjelaskan pilihan dan kemampuan operasional perusahaan yang membentuk kemampuan bersaingnya.
– Tidak semua strategic drivers sama pentingnya tetapi beberapa (mungkin lebih dari satu) sangat penting dalam setiap kasus.
– Setiap cost driver mempunyai kerangka cost analysis yang penting untuk memahami posisi perusahaan.

Menurut Juran (1985), kerangka cost analysis dapat diukur dan dimonitor
berdasarkan :
1) Prevention : Biaya untuk menghindari/ mencegah kualitas yang jelek (contoh : kualitas sumber daya manusia)
2) Appraisal : Biaya untuk mengawasi tingkat kualitas yang jelek (contoh : sistem laporan barang yang rusak)
3) Internal failure : Biaya untuk memperbaiki kualitas barang yang jelek (contoh : tenaga kerja yang melakukan pekerjaan ulang)
4) External failure : Biaya untuk memperbaiki kualitas yang jelek setelah pengiriman (contoh: klaim garansi).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s